Selasa, 22 Maret 2016

Cerpen Arti Persahabatan

                                Arti Persahabatan


“Fia kau kenapa sih, kok aku perhatiin kau cemberut aja dari tadi,” tanya Maya sambil menepuk pundak Fia yang sedang membaca buku. Namun, Fia tidak menggubris pertanyaan Maya. Ia terus saja diam dengan wajahnya yang terlihat kesal. “Hei Fia kau kenapa sih! kok serius banget sih baca bukunya. Gak kayak biasanya,” tanya Maya lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Fia. Namun, lagi-lagi Fia terus saja diam. Ia tak bergeming sedikit pun terhadap pertanyaan Fia. “Fia!” teriak Maya dengan suara kencang.
Semua siswa yang berada di kelas terkejut dan menatap tajam ke arah mereka berdua. “Hm!” ucap Fia sambil menoleh dengan wajah sinis menatap Maya. Ia lalu meletakkan bukunya dan menyandarkan wajahnya di atas meja yang dialasi dengan kedua tangannya. “Fia, kau kenapa sih? kau marah ya sama aku,” tanya Maya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Fia, “ngomong dong Fia, kalau emang aku ada salah. Jangan diem ajalah.” Lagi-lagi Fia tak menjawab pertanyaan Maya. Ia terus saja diam. “Atau mungkin kau lagi sakit ya Fia jadi males ngomong. Hm.. atau kau baru diputusin pacarmu ya Fia! atau mungkin kau lagi bertengkar dengan pacarmu. Kalau ada masalah cerita dong Fia kita kan sahabat,” desak Maya sambil menggoyang-goyangkan bahu Fia dengan kencang.
Fia yang merasa kesal, lalu menegakkan wajahnya dan berlari ke luar kelas. Maya yang terkejut dengan respon Fia langsung berlari mengejarnya. Namun, ia tak tahu Fia berlari ke mana. Ia pun mencoba menyusuri seisi kantin seorang diri. Namun, ia tak menemukan Fia di sana. Maya pun mencoba mencarinya ke toilet. Hasilnya tetap sama. Ia juga tak berada di sana. Maya akhirnya mencoba ke perpustakaan mencari Fia. Lagi-lagi Fia tak dapat dijumpai. Maya yang tidak dapat menemukan Fia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas.
“Tettt!” bel istirahat masuk berbunyi. Tak lama kemudian Fia masuk ke kelas yang dibarengi dengan kedatangan Bu Ririn dari arah belakangnya. Maya pun terus memperhatikan tiap langkah kaki Fia dari tempat duduknya berada. “Hei Fia! kau ke mana aja sih kok ku cariin dari tadi gak ketemu-ketemu,” ucap Maya dengan nada pelan.
Namun, Fia lagi–lagi bersikap cuek. Ia pun duduk sambil mengeluarkan buku bahasa inggrisnya. Pelajaran pun dimulai. Semua siswa terlihat hening mendengarkan Bu Ririn menjelaskan pelajaran. Namun tidak untuk Maya, ia terus saja bingung dengan sikap sahabatnya Fia. Ia yang duduk di sampingnya terus saja berpikir tentangnya. Maya akhirnya mencoba menulis di atas secarik kertas yang ia koyakkan dari buku tulisnya. “Fia kau kenapa sih? jangan diem terus dong! Kalau aku ada salah, aku minta maaf deh.”
Selesai menulis ia langsung menyodorkan kertas kecil itu ke depan wajah Fia dengan matanya yang terus saja menatap ke arah Bu Ririn. Fia yang melihat kertas itu langsung meremas kertas itu dan meletakkannya ke dalam laci meja tanpa membaca isinya. Maya yang melihat itu pun langsung merasa sebal dengan Fia. Ia akhirnya juga ikut-ikutan memasang muka masam. Saat bel pulang sekolah mereka terus saja saling memasang muka sinis. Obrolan yang mereka lakukan biasanya pun tak terjadi hari itu. Fia yang enggan berbicara dengan Maya, membuatnya juga ikut tertular. Fia pun pulang duluan tanpa menunggu Maya yang sedang giliran piket kelas. Padahal itu tak pernah terjadi sebelumnya.
“Maya kau berantem ya sama si Fia? Kok ku perhatiin kalian aneh banget hari ini,” tanya Rika sambil menatap Maya.
“Entahlah Rik, aku pun juga gak tahu. Dari tadi aku udah nanyain ke dia, tapi dia diem aja. jangan-jangan dia kesambet setan kali ya Rik!” jawab Fia sambil menghentikan gerakan menyapunya dan menatap ke arah Rika.
“Ah, ada-ada aja kau Maya. Tapi aku agak risih sih kalau kalian diem aja. Kelas ini sunyi banget rasanya kalau gak ada suara kuntilanak,” ucap Rika menimpali.
“Emang dasar kau ya Rik,” ujar Maya.
“Eh, tapi kalau aku rasa Maya sebaiknya kau minta maaf sama si Fia deh. Mungkin aja dia marah sama kamu,” sahut Mira dari arah depan kelas.
“Aku pun udah minta maaf tadi. Tapi dia diem aja. Padahal aku pun gak ngerasa ada buat salah sama dia Mir, jadi kayak gimana dong?” jawab Maya dengan nada pelan.
“Sebaiknya kau gak usah nyapu lagi deh. Biar kami aja yang ngerjain. Mendingan kau susul Fia aja. Coba kau tanya dia kenapa?”
“Iya May kalian kan akrab banget selama ini. Masa harus diam-diaman kayak gini,” sahut Fia yang menimpali kata Mira.
Maya yang melihat teman-temannya pada menganggukkan kepala, pun akhirnya meninggalkan kelas dan berlari dengan kencang mengejar Fia yang sudah pulang duluan. Dari kejauhan terlihat bayangan Fia yang membelok ke arah gang kecil. Maya yang melihat Fia berjalan dengan langkah kaki pelan, membuatnya terus saja berlari dengan sekuat tenaga. Akhirnya dia pun dapat mendahului langkah kaki Fia yang hampir memasuki pekarangan rumahnya. Maya berhenti tepat di depan Fia dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran yang mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Fia yang terkejut melihat hal itu, langsung menghentikan langkah kakinya.
“Fia!” ucap Maya parau sambil mengatur napasnya.
“Hm! ada apa?” jawab Fia dengan nada ketus.
Mereka berdua pun terlibat percakapan serius.
“Fia kau kenapa sih? kau marah ya samaku.”
“Iya.”
“Emangnya aku salah apa sih kok aku sendiri gak tahu.”
“Kau pura-pura gak tahu pula. Gara-gara kau Ibuku dipanggil Bu Ririn ke sekolah. Udah di sekolah diomelin di rumah juga. Gara-gara itu juga uang jajanku dipotong. Kenapa kau bilang sama Bu Ririn aku bolos? katanya kau sahabatku tapi nyatanya apa?”
“Aku kasih tahu Bu Ririn supaya kau gak terjerumus dengan hal yang gak baik. Aku gak ingin sahabatku jadi anak yang jahat, tukang bohong dan tukang bolos. Aku ingin sahabatku sama pintarnya denganku dan sama suksesnya denganku kelak. Aku juga gak akan biarkan kau bergaul dengan anak-anak berandal yang tukang tawuran itu.”
Mendengar hal itu, mata Fia langsung berkaca-kaca dan langsung memeluk Maya dengan kencang.
“Maya maafkan aku ya! Aku yang salah. Aku gak nyangka kau bisa sepeduli ini padaku,” ucap Fia dengan suara lirih menahan tangis. “Baiklah Fia. Tapi, maafkan aku juga ya! gara-gara aku kau jadi dimarahi dan dipotong uang jajanmu,” jawab Fia dengan suara parau. Aku gak bermaksud melakukan hal itu. Aku juga gak ingin menjadi sahabatmu yang selalu mendukungmu untuk kesesatan.”

Cerpen Kami Pecinta Sepak Bola

                              Kami Pecinta Sepak Bola


Sewaktu masih SMP, aku dan teman-temanku suka bermain sepak bola. Kami bermain pada sore hari, saat matahari tidak terlalu panas. Kadang jika sudah tidak ada aktivitas di rumah, kami akan bermain lebih awal dan berhenti saat adzan maghrib berkumandang. Kami mencintai sepak bola, hal ini bisa dilihat saat kami bermain semuanya pasti memakai kostum tim kesayangan dan meniru gaya pemain yang diidolakan. Tapi sayangnya, kami tidak bermain di lapangan. Hal ini disebabkan karena pemerintah setempat, sudah menggusur lapangan kami untuk dijadikan lahan bandara. Hingga suatu sore, Fikri temanku yang baru pulang sekolah menawari kami untuk bermain di pekarangan samping rumahnya.
“Mending main di rumahku aja!” kata Fikri.
“Emang boleh?” tanya Rais penasaran. Aku dan teman-teman yang lain, menatap ke arah Fikri dengan penuh harap.
Fikri diam sebentar, berpikir tentang resiko yang akan terjadi. Lalu dengan aksen inggrisnya yang absurd, dia menjawab, “Of course man, move on!” suasana hening. Kepalaku mendadak pusing, Rais terbatuk-batuk dan yang lain tertawa. Fikri bertanya dengan wajah heran.
“Kalian kenapa? Ada yang salah?”
Aku yang kesal pun menjawab, “Ya iyalah. Bukan move on tapi come on!”
“Ya, maksud aku juga begitu!” tandas Fikri. Hari itu, kami bermain dengan penuh semangat. Seusai bermain, Fikri mengeluarkan 2 botol air dingin lengkap dengan sepiring pisang goreng yang dibuat oleh ibunya.
Seminggu berlalu begitu cepat, kami bertemu lagi dengan masalah tempat. Kali ini, pekarangan rumah Fikri dijadikan tempat parkir oleh karyawan bandara. Ayah Fikri pun menjelaskan padaku dan teman-teman agar tidak berkecil hati. Akhirnya, kami memilih untuk tidak bermain dulu sampai kami menemukan tempat bermain yang baru. Rasa jenuh dengan aktivitas yang ada di rumah, membuatku dan teman-teman, mulai mencari cara untuk bermain. Terlebih Rais, yang baru saja membeli sepatu baru, sudah tidak sabar untuk mencobanya.
Saat pulang sekolah, aku bertemu dengan Ipul dan Amat. Kami pulang bersama-sama dan berjanji akan bermain sore itu. Sampainya di gang kompleks, kami bertiga bersilang jalan dan pulang ke rumah masing-masing. Sore harinya, Rais datang dan menungguku di depan rumah. Saat aku ke luar, Rais menyambutku, “Hallo Rizal, bagaimana penampilanku? Sudah mirip Messi bukan?” sembari menggoyangkan kakinya. Aku tahu, dia sengaja menanyakan hal itu agar aku memuji sepatu barunya. Dengan ikhlas aku menjawab.
“Kamu lebih mirip Tessy, hahaha!”
“Terima kasih untuk pujiannya!” jawab Rais dengan wajah kecewa.
Aku dan Rais bergegas menuju ke warung bu Minah, tempat kami biasa berkumpul. Satu per satu dari kami mulai berdatangan, diskusi pun dimulai.
“Jadi kita main di mana hari ini?” kata Riat membuka pembicaraan. Kami mulai berpikir mencari solusi untuk tempat yang baru. “Aku punya ide!” cetus Iwan ditengah keheningan kami. “Gimana kalau kita mainnya di bandara aja!”
“Apa? Di bandara? kalau pesawat turun terus kita ketabrak gimana?” kata Rais dengan kesal.
“Itu kalau mainnya di landasan, maksud aku kita main di dalam bandara. Aku lihat di situ ada lahan kosong, dekat lapangan tenis!” lanjut Iwan menegaskan.
“Aku setuju, aku pernah lihat banyak pula orang sering jogging di situ, bagus kali tempatnya, aman!” sambung Parman dengan logat bataknya yang kental.
Tanpa membuang waktu, kami segera pergi ke tempat yang dimaksud. Setelah puas bermain, kami duduk dekat trotoar menghadap ke arah landasan. Rais kembali membuat sensasi, “Sepatuku ini punya kelebihan!” katanya padaku.
“Mana buktinya?”
“Lihat ya, aku akan mengitari jalan ini dalam waktu 1 menit,” kata Rais sambil bersiap. Bagiku dan teman-teman, cepat atau tidak Rais berlari bukan masalah. Yang jadi kekhawatiran kami adalah, jalanan bandara sangat sensitif.
Rais berlari sambil bersorak kegirangan, dia terlihat seperti badut sirkus yang kelaparan. Aku dan teman-teman pun tidak ketinggalan untuk menyemangati. Akhirnya malapetaka terjadi, Rais kehilangan keseimbangan saat sepatunya menginjak pasir, yang berada di sisi jalan. Hal ini membuat Rais tersungkur dengan tampan di atas trotoar jalan. Lututnya luka, wajahnya penuh dengan pasir, dan kami tertawa. “Hahaha makanya jangan sombong!” kata Ipul sembari membantunya berdiri.
Hari itu kami lalui dengan senang. Persahabatan kami begitu indah untuk dikenang. Dari kejauhan, sebuah pesawat siap untuk terbang. Aku dan teman-temanku berdiri dari trotoar, memandangi pesawat yang terbang sampai pesawat itu menghilang di tengah awan. Kami semua terkagum melihatnya, lalu dalam hati aku bertanya, “Apakah kebersamaan ini akan terulang lagi?”

TUGAS 3 IBD BUDAYA DAN SASTRA UNIVERSITAS GUNADARMA

Budaya Dan Sastra

Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep.

Pokok-pokok yang terkandung dari beberapa devinisi kebudayaan
1. Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beragam
2. Kebudayaan didapat dan diteruskan melalui pelajaran
3. Kebudayaan terjabarkan dari komponen-komponen biologi, psikologi dan sosiologi
4. Kebudayaan berstruktur dan terbagi dalam aspek-aspek kesenian, bahasa, adat istiadat,
budaya daerah dan budaya nasional

Ilmu Budaya Dasar Merupakan Pengetahuan Tentang Perilaku Dasar-Dasar Dari Manusia. Unsur-unsur kebudayaan
1. Sistem Religi/ Kepercayaan
2. Sistem organisasi kemasyarakatan
3. Ilmu Pengetahuan
4. Bahasa dan kesenian
5. Mata pencaharian hidup
6. Peralatan dan teknologi

Karya sastra adalah penjabaran abstraksi,namun filsafat yang menggunakan bahasa juga disebut abstrasi. Maka abstrak adalah cinta kasih,kebahagian,kebebasan dan lainnya yang digarap oleh filsafat.
meliputi: Bahasa, Agama, Kesusastraan, Kesenian dll. Mengikuti pembagian ilmu pengetahuan seperti tersebut diatas maka Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar adalah satuan pengetahuan yang dikembangkan sebagai usaha pendidikan. Konsep-konsep social dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan utntuk mempelajari masala-masalah social yang dibahas dalam ilmu pengetahuan sosial, contohnya: Keanekaragaman dan konsep kesatuan sosial bertolak .
Tanpa ada maksud menciptakan dikotomi dalam kesusastraan, ada perbedaan antara literatur biasa dengan sastra. Sastra memiliki sense of love yang lebih representatif. Sebagai contoh, literatur ekonomi dapat saja mencatat angka-angka … Ada benang merah yang menyatukan konsep kebudayaan kita. Tidak heran apabila para pendiri bangsa mampu melebur diri dalam Bhineka Tunggal Ika. Kearifan budaya lokal masih kuat.
Sastra berasal dari kata castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu, sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang, dan sebagainya.
Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya. Secara morfologis, kesusastraan dibentuk dari dua kata, yaitu su dan sastra dengan mendapat imbuhan ke- dan -an. Kata su berarti baik atau bagus, sastra berarti tulisan. Secara harfiah, kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan yang baik atau bagus, baik dari segi bahasa, bentuk, maupun isinya.
Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra, yaitu ilmu sastra, teori sastra, dan karya sastra.
Ø Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki secara ilmiah berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal yang berhubungan dengan seni sastra. Ilmu sastra sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal berikut.
· Teori sastra, yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas, hukum-hukum, prinsip dasar sastra, seperti struktur, sifat-sifat, jenis-jenis, serta sistem sastra.
· Sejarah sastra, yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga perkembangan yang terbaru.
· Kritik sastra, yaitu ilmu yang mempelajari karya sastra dengan memberikan pertimbangan dan penilaian terhadap karya sastra. Kritik sastra dikenal juga dengan nama telaah sastra.
· Filologi, yaitu cabang ilmu sastra yang meneliti segi kebudayaan untuk mengenal tata nilai, sikap hidup, dan semacamnya dari masyarakat yang memiliki karya sastra.
Keempat cabang ilmu tersebut tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka memahami sastra secara keseluruhan.
Ø Teori sastra adalah asas-asas dan prinsip-prinsip dasar mengenai sastra dan kesusastraan.
Ø Seni sastra adalah proses kreatif menciptakan karya seni dengan bahasa yang baik, seperti puisi, cerpen/novel, atau drama.
Karya sastra pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisahan, dan amanat yang dikomunikasikan kepada pembaca. Untuk menangkap ini, pembaca harus mampu mengapresiasikannya. Pengetahuan tentang pengertian sastra belum lengkap bila belum tahu manfaatnya. Horatius mengatakan bahwa manfaat sastra itu berguna dan menyenangkan. Secara lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Karya sastra dapat membawa pembaca terhibur melalui berbagai kisahan yang disajikan pengarang mengenai kehidupan yang ditampilkan. Pembaca akan memperoleh pengalaman batin dari berbagai tafsiran terhadap kisah yang disajikan.
2. Karya sastra dapat memperkaya jiwa/emosi pembacanya melalui pengalaman hidup para tokoh dalam karya.
3. Karya sastra dapat memperkaya pengetahuan intelektual pembaca dari gagasan, pemikiran, cita-cita, serta kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam karya.
4. Karya sastra mengandung unsur pendidikan. Di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai tradisi budaya bangsa dari generasi ke generasi. Karya sastra dapat digunakan untuk menjadi sarana penyampaian ajaran-ajaran yang bermanfaat bagi pembacanya.
5. Karya sastra dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan atau penelitian tentang keadaan sosial budaya masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra tersebut dalam waktu tertentu.
Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.10 Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi.
Masinambouw menyebutkan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Kalau kebudayaan itu adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu.
Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu budaya dasar, karena materi-materi yang diulas oleh ilmu budaya dasar ada yang berkaitan dengan sastra dan seni.Budaya Indonesia sanagat menunjukkan adanya sastra dan seni didalamnya. Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :
1. Kenyataan bahwa bangsa indonesia berdiri atas suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yg tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas dari ikatan2 primordial, kesukaan, dan kedaerahan .
2. Proses pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya .
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan mausia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yg telah diciptakannya .
*IBD Yang Di Hugungkan Dengan Prosa
Istilah prosa banyak padanannya kadang-kadang disebut naratif fiction, prose fictic, atau hanya fiction saja dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal yang dipakai pada roman, novel dan cerita pendek
Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, yang tidak terikat rima dan irama.

Jenis-jenis Prosa : Prosa lama dan prosa baru.
Ø Prosa lama meliputi
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur lara
Ø Prosa baru meliputi
1. Cerita pendek
2. Roman/ novel
3. Biografi
4.Kisah
5. Otobiografi


Kesimpulan : Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Karya sastra adalah penjabaran abstraksi,namun filsafat yang menggunakan bahasa juga disebut abstrasi. Maka abstrak adalah cinta kasih,kebahagian,kebebasan dan lainnya yang digarap oleh filsafat. Bahasa, Agama, Kesusastraan, Kesenian dll. Mengikuti pembagian ilmu pengetahuan seperti tersebut diatas maka Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar adalah satuan pengetahuan yang dikembangkan sebagai usaha pendidikan. Tanpa ada maksud menciptakan dikotomi dalam kesusastraan, ada perbedaan antara literatur biasa dengan sastra. Sastra memiliki sense of love yang lebih representatif. Istilah prosa banyak padanannya kadang-kadang disebut naratif fiction, prose fictic, atau hanya fiction saja dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal yang dipakai pada roman, novel dan cerita pendek. Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, yang tidak terikat rima dan irama.




Sabtu, 12 Maret 2016

TUGAS 2 IBD MANUSIA DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Manusia Dan Kebudayaan
A.Manusia

Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tidak  bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Dari beberapa definisi di atas, tentu membuat kita sulit untuk menjawab pertanyaan tentang manusia, oleh karena itu kita akan menerangkan siapa itu manusia berdasarkan unsur-unsur yang membangunnya. Ada dua macam pandangan yang akan menjadi acuan untuk menjelaskan unsur-unsur yang membangun manusia.

1.Manusia terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu:
A.   Jasad : badan kasar manusia yang dapat kita lihat, raba bahkan di foto dan        menempati ruang dan waktu.
B.   Hayat : mengandung unsur hidup, yang di tandai dengan gerak.
C.   Ruh : bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
D.   Nafs : dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran akan diri sendiri.( Asy’arie, 1992 hal: 62-84).

2.Manusia sebagai satu kepribadian yang mengandung tiga unsur, yaitu:
A.   Id, merupakan struktur kepribadian yang paling primitive dan paling tidaampak.   Id merupakan energi psikis yang irrasional dan terkait dengan sex yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcius). Id diatur oleh kesenangan yang harus di penuhi,baik secara langsung melalui pengalaman seksual atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan.
B.   Ego, sering disebut “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan kepuasan Id dengan saluran sosial agar dapat di terima oleh masyarakat. Ego diatur oleh prinsip realitas dan mulai berkembang pada anak antara usia satu dan dua tahun.
C.   Super ego, merupakan struktur kepribadian terakhir yang muncul kira-kira pada usia lima tahun. Super ego menunjukan pola aturan yang dalam derajat tertentu menghasilkan kontrol diri melalui sistem imbalan dan hukuman terinternalisasi. (freud, dalam Brennan, 1991; hal 205-206).

B.Hakekat  Manusia
       Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, melebihi ciptaan Tuhan yang lain. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang dilengkapi dengan akal pikiran serta hawa nafsu. Tuhan menanamkan akal dan pikiran kepada manusia agar dapat digunakan untuk kebaikan mereka masing – masing dan untuk orang di sekitar mereka. Manusia diberikan hawa nafsu agar mampu tetap hidup di bumi ini. Salah satu hakekat manusia lainnya ialah manusia sebagai makhluk sosial, hidup berdampingan satu sama lain, berinteraksi dan saling berbagi.

C.Definisi  Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistic.
Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.

D.Unsur  Kebudayaan

        Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga dan kekuatan politik. Sedangkan Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi sistem norma,organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga petugas pendidikan dan organisasi kekuatan.


E.Wujud dan Komponen Kebudayaan

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga:

§  Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia
Kebudayaan yang muncul dan hidup karena adanya gagasan – gagasan baru, konsep yang matang serta buah dari pikiran yang kreatif. Wujudnya dapat ditemukan dalam sebuah buku – buku, arsip dan sebagainya.
§  Kompleks aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
§  Wujud sebagai benda
Aktivitas manusia sehari – hari umumnya dilakukan dengan menggunakan benda sebagai sarana dan prasarana. Dari situ lahir kebudayaan dalam bentuk fisik yang konkret, bisa bergerak maupun tidak.
G. Manusia  Indonesia  dan  Kebudayaan
Manusia Indonesia dalam hal kebudayaan saat ini mengalami berbagai rintangan dan halangan untuk menerima serbuan kebudayaan asing yang masuk lewat Globalisasi (perluasan cara-cara sosial melalui antar benua). Dalam hal ini teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonedia turut merobah cara kebudayaan Indonesia tersebut, baik itu kebudayaan nasional maupun kebudayaan murni yang ada di setiap daerah di Indonesia. Dalam hal ini sering terlihat ketidakmampuan manusia di Indonesia untuk beradaptasi dengan baik terhadap kebudayaan asing sehingga melahirkan perilaku yang cenderung ke Barat-baratan (westernisasi), yang menyebabkan terkendala dalam memajukan kebudayaannya sendiri.

Kesimpulan :
Manusia dan kebudayaan salah satu ikatan yang tidak  bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Manusia di ciptkan ada yang sempurna dan ada yang tidak sempurna dan manusia itu saling menolong dan bergoyong royong. Manusia itu saling hidup berdampingan satu sama lain. Kebudayan itu banyak sekali di indonesia dan dunia kita harus melestarikan budaya kita dari nenek moyang kita. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.


Sumber :
















Rabu, 09 Maret 2016

Cerpen Pelangi Di Pagi Hari

Pagi indah dengan adanya pelangi menghias angkasa. Berbagai warna tergores dengan indahnya. Warna yang berbeda, menambah nilai seni yang melihatnya. Secara perlahan senyum sang mentari mulai nampak dari ufuk barat, memudarkan pelangi indah yang menghangatkan jiwa.
“Kakak?” sapa adikku.
“Hmm, ada apa?” jawabku.
“Kak, kenapa Lori lahir berbeda? Lori ingin seperti mereka?” kata adikku menunjuk anak-anak yang sedang berlarian. “Lori.. kamu pernahkan melihat pelangi?” tanyaku lembut padanya.
“Pasti Kak, kenapa memangnya?”
“Pelangi terbuat dari berbagai warna yang berbeda, indah bukan?” tanyaku lagi.
“Pasti indah Kakak!” jawab adikku penasaran.
“Begitu pun dengan manusia, manusia diciptakan berbeda bentuk, warna kulit, wajah, dan sebagainya, itu adalah tujuan Tuhan untuk memperindah dunia ini, kamu mengerti maksud Kakak?” jawabku panjang lebar padanya.
“Berarti Lori memperindah dunia dong Kak walaupun Lori hanya bisa duduk di kursi roda ini?” tanya polos adikku.
“Tentu sayang, dan satu lagi, kamu tahu mengapa pelangi selalu datang sekejap?” tanyaku lagi.
“Entah Kak,”
“Karena Tuhan tidak akan membiarkan perbedaan itu bertahan lama, dan pada waktu yang ditentukan-Nya semua perbedaan itu akan hilang, dan semua akan sama,” jelasku lagi.
“makasih kakak, kakak udah buat Lori ngak minder lagi sekarang,” jawab adikku sambil ke luar kamarku.
Begitu kasihan hatiku melihat ia begini, bagaimana bisa dia selalu begitu, selalu merasa terbedakan. Tak terasa raja siang kini telah duduk di singgah sananya. Ku ajak adikku keliling komplek rumah kami, di tengah jalan tanpa sengaja aku bertemu dengan sahabatku, yang entah dengan siapa, sepertinya dia orang tuna netra. Sekian lama aku berbincang dengannya, kini ku tahu siapa orang itu, dia adalah seorang anak muda yang tak sengaja Rinda temukan di jalan, dia ingin ke rumah saudaranya yang tak jauh dari sini. Dengan adanya anak muda itu, Lori tak lagi minder lagi, dia sekarang sadar bukan dia saja yang berbeda, namun banyak yang lebih parah darinya.
Senja kini telah tiba, tak terasa hampir sehari aku bermain bersama Lori. Langkah demi langkah ku lalui, dan kini betapa sakitnya aku mendengar ejekan mereka yang begitu kejam, dan ku lihat Lori mulai berkaca-kaca, ku tahu mereka memang sempurna tapi ku lebih tahu adikku jauh lebih sempurna dari mereka. Sampai rumah pun Lori langsung beranjak ke kamar, aku yang tahu kebiasaannya pun ku biarkan saja. Nanti setelah agak tenang ku hampiri dia.
“Sayang, kenapa menangis?” tanyaku ramah.
“Kakak, kenapa mereka selalu begitu sama Lori, sampai kapan Lori terus diejek seperti tadi?” tanyanya sambil menangis.
“Asal kamu tahu, kamu jauh lebih sempurna dibanding mereka, mereka mengejek kamu berarti mereka iri sama kamu?”
“Kenapa begitu Kak?”
“Iya, karena orang yang tidak suka dengan kita berarti dia tak mampu seperti kita, kita umpamakan saja bulan dan matahari. Tugas mereka sama-sama menyinari tapi matahari jauh lebih terang dari bulan,”
“Lalu Kak?”
“Lalu? Matahari tak pernah beranjak dari tempatnya, namun bulan? bulan selalu iri dengan matahari, dia selalu mengejar matahari, walau dia tahu dia tidak akan bisa seperti matahari,” lanjutku. “Lalu apa hubungannya dengan Lori Kak?” katanya.
“Lori harus seperti matahari, walau bulan selalu mengejar atau mengejek Lori, Lori nggak boleh jatuh, cahaya Lori nggak boleh redup, biarlah mereka berkata apa, yang penting Lori tetap kuat, tetap semangat, dan jangan buang air mata kamu hanya buat mereka,” Sergahku padanya. Malam kini telah tiba, ku pejamkan mata ini yang telah terasa amat berat, dalam hatiku berdoa, semoga hari esok jauh lebih baik dari hari ini, dan semoga semua hal buruk hari ini tak akan pernah terjadi lagi.
Cerpen Karangan: Ira Novinda
Facebook: Ira Novinda

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di:  untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Motivasi

Cerpen Harapan Untuk Ibu

Fyuh! Nilai, nilai, nilai. Kenapa kau terus membuatku dimarahi orangtuaku? Hasil ulangan MTK-ku yang di bawah 6 membuatku tidak diberi uang saku selama 3 hari. Sudah biasa sebenarnya, tapi ah sudahlah. Aku malas membahasnya. Aku bodoh. Ya, aku tahu itu. Dan aku tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Aku tidak belajar? Tidak! Aku selalu belajar. Setiap malam aku hanya membaca buku-buku pelajaran yang penuh ilmu. Aku tidak seperti mereka-mereka yang belajar beberapa menit sebelum ulangan. Bahkan aku muak pada mereka. Seperti sok rajin. Namaku Hafiz Maulana. Aku duduk di kelas 9 sekarang. Beberapa bulan lagi aku menghadapi Ujian. Ah menyebalkan. Dan kau tahu? Berkali-kali tryout aku selalu mendapat nilai di bawah 5. Dan aku mendapati kursi di Grade-G.
Grade paling akhir di sekolahku yang terkenal dengan anak-anak yang prestasinya terendah. Aku memang bukan yang paling rendah. Tapi aku malu disamakan dengan mereka. Ulangan adalah hal yang sangat menyebalkan bagiku. Selembar kertas yang hanya berisi sebuah nilai membuat orangtuaku marah. Aku benci ulangan. Sangat membencinya. Namun aku juga tahu ulangan adalah ajang untuk mendapatkan nilai dan mengasah kemampuan diri. Besok aku menghadapi Latihan UN. Sejenis tryout juga. Malam harinya, aku hanya berdoa sepanjang aku belum mengantuk. Dan aku ketiduran sampai lupa tak belajar. Terpaksa aku belajar di pagi hari sebelum Latihan UN dilaksanakan. Tentu saja teman-temanku mengejekku.
“Hafiz sok rajin,” kata mereka. Aku diam saja dan melanjutkan belajar. Aku mulai memahami dan ku lakukan hal itu setiap hari.
Minggu selanjutnya, hasil Latihan UN dibagikan. Aku tak menyangka ternyata nilaiku sungguh memuaskan. Ku beritahu seluruh keluargaku.
“Memangnya dapat berapa Fiz?” tanya ayahku.
“Rata-ratanya 7,5 yah,” Seluruh keluargaku tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha ku kira 10. Eh tahunya pas KKM. Hahaha,” kakakku mengejek.
“Susah tahu dapat nilai segitu. Setidaknya nilaiku begitu tapi aku tidak mencontek. Tidak seperti kakak. Wlee,” bantahku.
“KAU!”
Aku berlari menuju kamarku. Wajahku memerah. Aku ingin menangis. Tapi aku laki-laki. Tak pantas menangis. Aku benci mereka. Mereka punya nilai bagus, ya aku tahu. Tapi apa artinya nilai kalau bukan pekerjaan sendiri. “Tidak apa-apa Fiz, itu awal yang bagus. Ibu bangga padamu. Tingkatkan lagi ya Nak,” kata ibu membelai rambutku. Aku mengangguk. Kini aku belajar setiap sebelum dan sesudah subuh. Aku mudah paham dengan cara ini. Aku naik ke Grade-B. Suatu hal sangat mengejutkan bagi teman-teman, guru, dan juga aku tentunya. “Selangkah lagi Hafiz,” aku menyemangati diriku sendiri. Aku melewati Ujian Sekolah dengan mudah. Rata-rataku mencapai 9. Hal yang menggembirakan. Aku mendapat peringkat 5. Aku pulang ke rumah membawa kabar gembira ini pada keluargaku. Kakakku sekarang tak mengejekku lagi.
“Kak, Ibu dan Ayah di mana?” tanyaku.
“Ayo ikut aku,” ajaknya.
“Kemana Kak?”
“Sudah jangan banyak tanya. Aku sudah menunggumu terlalu lama. Cepat!”
Kak Ravi menyeretku menaiki mobil. Dia mengajakku ke suatu tempat. Rumah sakit. Siapa yang sakit?
“Ibu. Penyakit jantungnya kambuh lagi,” Kak Ravi berkata lirih.
Aku langsung berlari mencari kamar Ibu. Di sana ada Ayah, Kakek, dan Nenekku. Ku hampiri ibu yang terbaring lemah. Matanya terbuka.
“Ibu, aku peringkat 5,” kataku.
“Iya. Ibu bangga padamu. Tingkatkan ya.” Ibu menutup matanya. Untuk selamanya.
Aku berdiri di sini. Di samping gundukan tanah ini. Aku baru pulang dari sekolah dan langsung ke sini. Pengumuman hasil Ujian Nasional. Aku peringkat 3. Ku persembahkan ini untuk ibu. Dan jika ibu masih hidup, pasti ia berkat, “Ibu bangga padamu. Tapi tingkatkan lagi ya.”
Cerpen Karangan: Evi Herniyati
Facebook: Evi’s World / Evi Herniyati

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di:  untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Remaja Cerpen Sedih

CLUTCH (1 VS 8) POINT BLANK