Arti Persahabatan
“Fia kau kenapa sih, kok aku perhatiin kau cemberut aja dari tadi,” tanya Maya sambil menepuk pundak Fia yang sedang membaca buku. Namun, Fia tidak menggubris pertanyaan Maya. Ia terus saja diam dengan wajahnya yang terlihat kesal. “Hei Fia kau kenapa sih! kok serius banget sih baca bukunya. Gak kayak biasanya,” tanya Maya lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Fia. Namun, lagi-lagi Fia terus saja diam. Ia tak bergeming sedikit pun terhadap pertanyaan Fia. “Fia!” teriak Maya dengan suara kencang.
Semua siswa yang berada di kelas terkejut dan menatap tajam ke arah mereka berdua. “Hm!” ucap Fia sambil menoleh dengan wajah sinis menatap Maya. Ia lalu meletakkan bukunya dan menyandarkan wajahnya di atas meja yang dialasi dengan kedua tangannya. “Fia, kau kenapa sih? kau marah ya sama aku,” tanya Maya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Fia, “ngomong dong Fia, kalau emang aku ada salah. Jangan diem ajalah.” Lagi-lagi Fia tak menjawab pertanyaan Maya. Ia terus saja diam. “Atau mungkin kau lagi sakit ya Fia jadi males ngomong. Hm.. atau kau baru diputusin pacarmu ya Fia! atau mungkin kau lagi bertengkar dengan pacarmu. Kalau ada masalah cerita dong Fia kita kan sahabat,” desak Maya sambil menggoyang-goyangkan bahu Fia dengan kencang.
Fia yang merasa kesal, lalu menegakkan wajahnya dan berlari ke luar kelas. Maya yang terkejut dengan respon Fia langsung berlari mengejarnya. Namun, ia tak tahu Fia berlari ke mana. Ia pun mencoba menyusuri seisi kantin seorang diri. Namun, ia tak menemukan Fia di sana. Maya pun mencoba mencarinya ke toilet. Hasilnya tetap sama. Ia juga tak berada di sana. Maya akhirnya mencoba ke perpustakaan mencari Fia. Lagi-lagi Fia tak dapat dijumpai. Maya yang tidak dapat menemukan Fia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas.
“Tettt!” bel istirahat masuk berbunyi. Tak lama kemudian Fia masuk ke kelas yang dibarengi dengan kedatangan Bu Ririn dari arah belakangnya. Maya pun terus memperhatikan tiap langkah kaki Fia dari tempat duduknya berada. “Hei Fia! kau ke mana aja sih kok ku cariin dari tadi gak ketemu-ketemu,” ucap Maya dengan nada pelan.
Namun, Fia lagi–lagi bersikap cuek. Ia pun duduk sambil mengeluarkan buku bahasa inggrisnya. Pelajaran pun dimulai. Semua siswa terlihat hening mendengarkan Bu Ririn menjelaskan pelajaran. Namun tidak untuk Maya, ia terus saja bingung dengan sikap sahabatnya Fia. Ia yang duduk di sampingnya terus saja berpikir tentangnya. Maya akhirnya mencoba menulis di atas secarik kertas yang ia koyakkan dari buku tulisnya. “Fia kau kenapa sih? jangan diem terus dong! Kalau aku ada salah, aku minta maaf deh.”
Selesai menulis ia langsung menyodorkan kertas kecil itu ke depan wajah Fia dengan matanya yang terus saja menatap ke arah Bu Ririn. Fia yang melihat kertas itu langsung meremas kertas itu dan meletakkannya ke dalam laci meja tanpa membaca isinya. Maya yang melihat itu pun langsung merasa sebal dengan Fia. Ia akhirnya juga ikut-ikutan memasang muka masam. Saat bel pulang sekolah mereka terus saja saling memasang muka sinis. Obrolan yang mereka lakukan biasanya pun tak terjadi hari itu. Fia yang enggan berbicara dengan Maya, membuatnya juga ikut tertular. Fia pun pulang duluan tanpa menunggu Maya yang sedang giliran piket kelas. Padahal itu tak pernah terjadi sebelumnya.
“Maya kau berantem ya sama si Fia? Kok ku perhatiin kalian aneh banget hari ini,” tanya Rika sambil menatap Maya.
“Entahlah Rik, aku pun juga gak tahu. Dari tadi aku udah nanyain ke dia, tapi dia diem aja. jangan-jangan dia kesambet setan kali ya Rik!” jawab Fia sambil menghentikan gerakan menyapunya dan menatap ke arah Rika.
“Ah, ada-ada aja kau Maya. Tapi aku agak risih sih kalau kalian diem aja. Kelas ini sunyi banget rasanya kalau gak ada suara kuntilanak,” ucap Rika menimpali.
“Emang dasar kau ya Rik,” ujar Maya.
“Entahlah Rik, aku pun juga gak tahu. Dari tadi aku udah nanyain ke dia, tapi dia diem aja. jangan-jangan dia kesambet setan kali ya Rik!” jawab Fia sambil menghentikan gerakan menyapunya dan menatap ke arah Rika.
“Ah, ada-ada aja kau Maya. Tapi aku agak risih sih kalau kalian diem aja. Kelas ini sunyi banget rasanya kalau gak ada suara kuntilanak,” ucap Rika menimpali.
“Emang dasar kau ya Rik,” ujar Maya.
“Eh, tapi kalau aku rasa Maya sebaiknya kau minta maaf sama si Fia deh. Mungkin aja dia marah sama kamu,” sahut Mira dari arah depan kelas.
“Aku pun udah minta maaf tadi. Tapi dia diem aja. Padahal aku pun gak ngerasa ada buat salah sama dia Mir, jadi kayak gimana dong?” jawab Maya dengan nada pelan.
“Sebaiknya kau gak usah nyapu lagi deh. Biar kami aja yang ngerjain. Mendingan kau susul Fia aja. Coba kau tanya dia kenapa?”
“Iya May kalian kan akrab banget selama ini. Masa harus diam-diaman kayak gini,” sahut Fia yang menimpali kata Mira.
“Aku pun udah minta maaf tadi. Tapi dia diem aja. Padahal aku pun gak ngerasa ada buat salah sama dia Mir, jadi kayak gimana dong?” jawab Maya dengan nada pelan.
“Sebaiknya kau gak usah nyapu lagi deh. Biar kami aja yang ngerjain. Mendingan kau susul Fia aja. Coba kau tanya dia kenapa?”
“Iya May kalian kan akrab banget selama ini. Masa harus diam-diaman kayak gini,” sahut Fia yang menimpali kata Mira.
Maya yang melihat teman-temannya pada menganggukkan kepala, pun akhirnya meninggalkan kelas dan berlari dengan kencang mengejar Fia yang sudah pulang duluan. Dari kejauhan terlihat bayangan Fia yang membelok ke arah gang kecil. Maya yang melihat Fia berjalan dengan langkah kaki pelan, membuatnya terus saja berlari dengan sekuat tenaga. Akhirnya dia pun dapat mendahului langkah kaki Fia yang hampir memasuki pekarangan rumahnya. Maya berhenti tepat di depan Fia dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran yang mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Fia yang terkejut melihat hal itu, langsung menghentikan langkah kakinya.
“Fia!” ucap Maya parau sambil mengatur napasnya.
“Hm! ada apa?” jawab Fia dengan nada ketus.
Mereka berdua pun terlibat percakapan serius.
“Fia kau kenapa sih? kau marah ya samaku.”
“Iya.”
“Hm! ada apa?” jawab Fia dengan nada ketus.
Mereka berdua pun terlibat percakapan serius.
“Fia kau kenapa sih? kau marah ya samaku.”
“Iya.”
“Emangnya aku salah apa sih kok aku sendiri gak tahu.”
“Kau pura-pura gak tahu pula. Gara-gara kau Ibuku dipanggil Bu Ririn ke sekolah. Udah di sekolah diomelin di rumah juga. Gara-gara itu juga uang jajanku dipotong. Kenapa kau bilang sama Bu Ririn aku bolos? katanya kau sahabatku tapi nyatanya apa?”
“Kau pura-pura gak tahu pula. Gara-gara kau Ibuku dipanggil Bu Ririn ke sekolah. Udah di sekolah diomelin di rumah juga. Gara-gara itu juga uang jajanku dipotong. Kenapa kau bilang sama Bu Ririn aku bolos? katanya kau sahabatku tapi nyatanya apa?”
“Aku kasih tahu Bu Ririn supaya kau gak terjerumus dengan hal yang gak baik. Aku gak ingin sahabatku jadi anak yang jahat, tukang bohong dan tukang bolos. Aku ingin sahabatku sama pintarnya denganku dan sama suksesnya denganku kelak. Aku juga gak akan biarkan kau bergaul dengan anak-anak berandal yang tukang tawuran itu.”
Mendengar hal itu, mata Fia langsung berkaca-kaca dan langsung memeluk Maya dengan kencang.
Mendengar hal itu, mata Fia langsung berkaca-kaca dan langsung memeluk Maya dengan kencang.
“Maya maafkan aku ya! Aku yang salah. Aku gak nyangka kau bisa sepeduli ini padaku,” ucap Fia dengan suara lirih menahan tangis. “Baiklah Fia. Tapi, maafkan aku juga ya! gara-gara aku kau jadi dimarahi dan dipotong uang jajanmu,” jawab Fia dengan suara parau. Aku gak bermaksud melakukan hal itu. Aku juga gak ingin menjadi sahabatmu yang selalu mendukungmu untuk kesesatan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar